• 1
  • 2
  • 3
  • 4

Arsip Berita

  • AMANAH MEMAHAMKAN KURIKULUM 2013 KEPADA PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

    • di posting oleh pada 06 September 2014 20:16:13

    Membumikan Kurikulum 2013 memang belum sepenuhnya usai. Masih banyak pekerjaan yang harus dirampungkan. Namun kekurangan disana-sini bukanlah sebuah justifikasi bahwa kurikulum ini harus dihentikan. “Saya yakin bahwa Kurikulum 2013 ini adalah number one!”, Musliar Kasim menyatakan dengan bersemangat didepan peserta Rapat Koordinasi Nasional Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (Rakornas DPP AKSI) di Hotel Mega Anggrek malam itu.

     

    DPP AKSI memang menggelar rakornas-nya dari tanggal 9 hingga 12 Juni 2014 dengan dukungan Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, BPSDMPK&PMP, Kemdikbud. Sebanyak 80 orang kepala sekolah dari seluruh Indonesia yang mewakili unsur DPD hadir untuk berbagi pengalaman dan merumuskan bentuk asosiasi ini kedepannya. Dengan mengusung topik mewujudkan pengelolaan satuan pendidikan yang bermutu, rakornas DPP AKSI mendapatkan kehormatan untuk mendengarkan arahan dan pencerahan dari Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, Wamendikbud bidang Pendidikan.

     

    “Kurikulum 2013 saat ini telah melewati fase-fase krisisnya dan alhamdulillah dapat dilalui dengan baik dengan segala dinamikanya”, ujarnya. Lalu Musliar Kasim menjelaskan secara panjang lebar mengenai perjuangannya mengimplementasi kurikulum 2013. Fase krisis yang pertama adalah perumusan ide. Tidak terbayangkan pertempuran ide saat itu, begitu keras dan dahsyat. Banyak pemikiran-pemikiran yang menyatakan bahwa kurikulum 2013 tidak mungkin dilaksanakan dan kalau idenya seperti yang dirumuskan, maka tidak mungkin Indonesia bisa menguasai dunia.

     

    Penghadangan ide-ide dalam Kurikulum 2013 ini target utamanya hanya mematikan langkah kurikulum baru ini. Dan yang lebih sedih lagi, mereka yang didengarkan oleh media hanyalah pengamat-pengamat yang tidak menyelami nilai spirit dibuatnya Kurikulum 2013.

     

    Padahal, Kurikulum 2013 membawa semangat perubahan yang amat mendasar dan mengembalikan pendidikan ke posisi yang seharusnya. Sebagai contoh untuk jenjang SD perubahan-perubahan tersebut adalah model pembelajaran tematik terpadu, menggantikan model pembelajaran sebelumnya tematik mapel. Dengan tematik terpadu memungkin untuk mereduksi beban pelajaran yang harus ditanggung oleh siswa dengan tetap mengindahkan kualitasnya. “Buku siswa untuk tematik hanya 114 halaman”, katanya.

     

    Dengan jumlah halaman hanya 114, maka akan menghindari model pembelajaran yang isinya hanya membaca dan berteori. “Ini karena Kurikulum 2013 adalah activity based, siswa harus sering beraktivitas”.

     

    Perubahan kedua adalah untuk usia SD kelas 1, siswa tidak lagi diminta untuk membaca. Tema 1 pada SD kelas 1 tentang Diriku hanya meminta aktivitas siswa untuk belajar berkenalan. Walau tertulis setiap nama tokoh anak yang terlibat dalam aktivitas perkenalan tersebut, tapi guru tidak meminta mereka mengeja nama-nama tersebut.

     

    Perubahan berikutnya terkait dengan penanaman nilai luhur keanekargamanan. Tokoh yang dimunculkan adalah anak-anak yang berasal dari berbagai macam suku dengan kekhasan tampilan dan namanya serta perbedaan agama. Dengan demikian, sejak dini siswa ditanamkan pemahaman bahwa lingkungan sekitar tempat kita hidup adalah beraneka ragam. Implikasinya, cerita si Budi, Wati dan keluarganya sudah tidak ditampilkan.

     

    “Inilah sebuah amanah saya...inilah hal yang ingin saya pahamkan kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan”, tegas Wamendikbud, “Coba rasakan manfaatnya dan perbedaannya sehingga Bapak dan Ibu juga akan mengatakan hal yang sama seperti saya bahwa Kurikulum 2013 adalah number one”, ucapkan keras dan dibalas dengan suara tepuk tangan para kepala sekolah. Beliau juga bersyukur bisa hadir ditengah-tengah kepala sekolah yang tergabung dalam AKSI dan berharap bisa terus mendukung terselenggaranya Kurikulum 2013.

     

    Selanjutnya, Prof. Musliar Kasim juga mengatakan bahwa Kurikulum 2013 saat sedang berjuang untuk melewati phase krisis kedua. Dimulai dari penulisan buku tahunan kedua, penyediaan buku dalam skala besar, pelatihan dalam skala besar dan terakhir implementasi bertahap dan menyeluruh. Phase kedua ini diharapkan rampung pada minggu ketiga bulan Juli.

     

    Sebuah pernyataan penting dikeluarkan oleh Pak Musliar Kasim diakhir sessi, “Bapak dan Ibu percaya kepada saya. Tidak ada yang mengatakan bahwa Kurikulum 2013 itu tidak bagus, tapi yang menjadi berita bagus adalah saat guru tidak siap dengan Kurikulum 2013 dan buku yang belum terdistribusikan”, ujarnya bersemangat namun tetap tenang, “Dan ini adalah menjadi amanah saya untuk memahamkan Kurikulum 2013 kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan”.

     

    Abdul Ghafur, ST., M.Ed

    Pusbang Tendik, Kemdikbud

Arsip Berita

Pengumuman

Polling